Annyeong Haseyoo..
gimana kabar kalian?? :)
Sehat2 saja bukan? #loh, kaya pidato
udah lama nih ga posting, sekarang pengen posting tentang lomba drama n cerpen aku di sman 78 jkt. kekekekk~
padahal lombanya udah dari februari kemaren, tapi baru sempet di posting sekarang.
hadeehh,, =,=
ini karena tugas yang mengocok peruuuutkuu..!! AaAaAaaaa...!!! >o<
Aigoo~ udah ah langsung aja ini fotonya:
aku yang mana yaaa??
hemm.. itu diaaa :D
yang lagi megang piala, di samping kanannya fitri yang pake kerudung cokelat. wakakak xD
narsis dikit gapapa lah pake masang "V" victory..
Dari kiri ke kanan:
Tami, caliza, hashi, manda, ana, ayu, fitri, aku, aini, bu satinah (guru pembimbing kami waktu ke sana :), prima, sama ike.
Yang di depan ada ghaby, isma, sama nini.
yang di belakang ada iqbal, dia tadinya bertugas buat narik tirai, tapi setelah tau setting lomba dramanya ga pake tirai, iqbal cuma jadi penonton aja. Hemm..
Oh iya ketinggalan nih bocah kecil :p
Itu yang di depannya (di bawahnya) bu satinah, ada si.... haduuh siapa ya namanya, lupaa deh!?!? >.<
dia anaknya bu satinah
waduh sayangnya kita sempet fotonya cuma pas selesai lomba u,u
oh iya, belum aku kasih tau ya itu piala apa..
yang aku pegang itu Piala Lomba Cerpen, aku dapet juara ke 3 kekekekk :p
Judul Cerpen nya : My Name is Sam
terinspirasi dari salah satu temen aku *biiiiipp* bukan temen juga sih, tapii... yaaahh pokoknya begitu lah :D
#loh? bingung ya?
sama aku juga., wakakak xD
hadeh makin geje aja T.T
kalo Piala Lomba Dramanya dipegang sama si manda, dia yang di samping kanan hashi yang pake baju warna ungu.
Lomba Drama alhamdulillah kita dapet juara ke 2 ^O^
whuaaa senangnyaaa....
Tokoh-tokohnya:
aku, ana, isma, manda, hashi, fitri, sama caliza.
walaupun tahun lalu sempet juara 1 di sman 78 jkt juga tapi kita ga bersedih hati. soalnya pas pengumuman lomba kita udah pasrah mau menang atau ga.. Lawannya jago2 semua sih =.=
tapi ternyata Allah masih memberikan kita kesempatan untuk meraih kemenangan itu ^_^
Alhamdulillahh..
Piala yang satu lagi itu Lomba Kreasi Jilbab, kita juara pertama jugaa looh.. whaaa!! ^O^
seneng bangeet, walaupun aku bukan termasuk di dalamnya tapi aku ikut seneng. Karena mewakili sekolah aku juga, SMAN 9 Tangerang ^^
Yang ikut ada 3 orang: Aini, Ike, sama Prima.
Dan ini Piagam Dramanya:
Sertifikat Drama dan Piagam Cerpennya juga adaa, tapi belum sempet aku foto >.<
hhuhh.. kalo ada waktu aku tambahin deh, heh maklum. ini aja baru sempet mosting..
hemm kayanya udah dulu deh, sampe di sini dulu ya. Soalnya besok aku masih mid semester #loh!? Lagi mid kok sempet2nya buka blog!?
Okk Ja mataa ^_^
2012年3月4日日曜日
2012年2月16日木曜日
Perkembangan Masyarakat Indonesia pada zaman Demokrasi Liberal
1. Faktor yang menyebabkan Kabinet berikut ini jatuh:
a. Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
Kabinet Natsir jatuh setelah Hadikusuma dari PNI mengajukan mosi yang tidak percaya menyangkut pencabutan PP No. 39/1950 tentang DPRS dan DPRDS.
Jatuhnya kabinet natsir disebabkan kebijakan Natsir dalam rangka pembentukan DPRD dinilai oleh golongan oposisi terlalu banyak menguntungkan Masyumi
b. Kabinet Soekiman (27 April 1951 – 3 April 1952)
Penyebab utamanya kabinet sukiman jatuh adalah pertukaran nota antara Menlu Subarjodan Duta besar amerika, Merlan Cochran.
Kabinet Sukiman berkoalisi dengan Masyumi dan PNI. Kabinet sukiman menjadi paling terkenal karena usahanya ynag serius untuk menumpas PKI. Kegagalan Sukiman dalam menangani masalah pemberontakan kahar muzakar di Sulawesi sangat melemahkan kekuasaannya.
Adapun penyebab dari jatuhnya kabinet ini adalah ditandatanganinya persetujuan bantuan ekonomi dan persenjataan dari Amerika kepada Indonesia atas dasar MSA. Hal ini menimbulkan pertentangan dengan program kabinet dalam hal politik luar negeri yang bebas aktif, dengan ditandatanganinya menimbulkan tafsiran bahwa indonesia condong ke blok barat.
c. Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juni 1953)
Kabinet Wilopo jatuh adalah peristiwa 17 oktober 1952 yang gerakan sejumlah perwira Angkatan Darat ( AD ) menekan presiden soekarno agar membubarkan kabinet.
Kabinet Burhanuddin Harahap memerintah hanya selama 5-6 bulan saja, tetapi banyak mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan. Sebenarnya kabinet ini di dalam menjalankan pemerintahan kompak dan utuh, tidak ada pertentangan dan keretakan dalam tubuh kabinet. Begitu juga tidak ada pertentangan antar partai yang ikut dalam koalisi kabinet ini, tidak seperti kabinet-kabinet sebelumnya. Sebaliknya kelompok oposisi seperti : PNI dan sebagainya tidak terlalu berusaha menjatuhkan kabinet. Sebenarnya kabinet ini masih berjalan baik. Cuma Presiden kurang merestui kabinet ini, karena yang menunjuk Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet adalah Drs. Moh. Hatta.
Setelah hasil pemungutan suara diumumkan dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956 pukul 10.00 siang Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilihan umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa selagi tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara etika politik demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya, setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun konstituante.
Jadi kabinet ini jatuh tidak dikarenakan keretakan di dalam tubuh kabinet, juga bukan karena dijatuhkan oleh kelompok oposisi yang mencetuskan mosi tidak percaya dari parlemen, tetapi merasa tugasnya sudah selesai. Kabinet terus bekerja sebagai Kabinet Domissioner selama 20 hari yaitu sampai terbentuknya kabinet baru yakni Kabinet Ali – Rum – Idham yang dilantik tanggal 24 Maret 1956 dan serah terima dengan Kabinet Burhanuddin Harahap tanggal 26 Maret 1956. Setelah itu Eks Perdana Menteri ataupun Menteri lagi sampai kini dalam kabinet mana pun juga dan dimana pun juga.
d. Kabinet Ali Sastroamijoyo I
Kabinet Ali jatuh akibat NU memutuskan untuk menarik kembali menteri – menterinya yang kemudian di ikuti oleh partai – partai lain.
e. Kabinet Burhanuddin Harahap
Kabinet Burhanuddin Harahap jatuh setelah tidak mendapatkan dukungan dalam pemilu tahun 1955.
f. Kabinet Ali Sastroamijoyo II
Karena pergolakan di daerah yang semakin menguat, seperti pembentukan Daerah Militer di Sumatera Utara.
g. Kabinet Djuanda
Kabinat Djuanda berakhir setelah presiden Soekarno mengeluarkan Dekret presiden 5 juli 1959.
2. Faktor yang melatarbelakangi pemberontakan daerah berikut ini memberontak:
PKI MADIUN
Latar belakang :
Digantinya kabinet Amir Syarifuddin oleh kabinet Hatta.
Tujuan :
Mendirikan Soviet Republik Indonesia.
Membangun negara komunis.
Tokoh :
Muso, Amir Syarifuddin, dan anggota PKI.
Usaha Pemerintah:
Pemerintah menyerang Madiun dari dua arah. Dari Barat oleh pasukan Divisi Siliwangi dan dari Timur oleh pasukan di bawah pimpinan Kolonel Sungkono.
Dampak :
Banyak pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat dibunuh.
DI/TII JABAR
Latar belakang :
Tidak puas dengan perjanjian Renville.
Tujuan :
Untuk mendirikan negara sendiri yang terpisah dari RI.
Mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo
Usaha Pemerintah:
Secara diplomasi : melalui musyawarah
Secara militer : Operasi Pagar Betis (rakyat), Operasi Brathayudha.
DI/TII JATENG
(GAUI)
Tokoh:
Mahfudz Abdurrahman (Kyai Somalangu).
Tempat:
Di Kabumen
Usaha pemerintah:
Pemerintah menurunkan pasukan TNI dengan nama Operasi Banteng Raiders.
(GMI)
Tokoh:
Amir Fatah
Tempat:
Di Tegal, Brebes, Indramayu.
Usaha Pemerintah:
Pemerintah menurunkan pasukan TNI dengan nama Gerakan Banteng Negara (GBN).
DI/TII ACEH
Latar belakang :
Daud Beureuh merasa kecewa atas hilangnya kedudukan sebagai Gubernur militer.
Turunnya status Aceh dari daerah istimewa menjadi daerah keresidenan.
Tujuan :
Mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Tengku Daud Beureuh
Usaha Pemerintah :
Operasi militer
Melakukan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh
DI/TII SULSEL
Latar belakang :
Tuntutan Kahar Muzakar untuk masuk APRIS ditolak.
Tujuan :
Untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Kahar Muzakar dan Gerungan.
Usaha Pemerintah :
Mengirim Divisi Siliwangi
DI/TII KALSEL
Latar belakang :
Ibnu Hajar mendeklarasikan berdirinya DI/TII di Kalsel 10-10-1950.
Tujuan :
Menyatakan gerakannya bagian dari DI/TII.
Tokoh :
Ibnu Hajar dan Kerukunan Rakyat Yang Tertindas (KRYT).
Usaha Pemerintah:
Memerintahkan suatu operasi militer
Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)
Latar belakang :
Kalangan Kolonialis Belanda ingin mengamankan kepentingan ekonominya di Indonesia.
Tujuan :
Untuk mempertahankan kedudukan Negara Pasundan.
Tokoh :
Kapten Westerling, APRA, Sultan Hamid II
Usaha Pemerintah :
Secara diplomasi : Tekanan terhadap pimpinan pasukan Belanda.
Secara militer : Pemerintah mendatangkan kesatuan polisi dan polisi militer.
Dampak :
Pasukan APRA dapat menguasai Kota Bandung dalam beberapa jam.
Pemberontakan PRRI (Pemerintah Revosulioner Republik Indonesia)
Latar belakang :
Hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dengan beberapa daerah, terutama Sumatera dan Sulawesi.
Tujuan :
Untuk mempersiapkan usaha pembangunan di daerah secara intregal.
Tokoh :
Letkol Ahmad Husein
Usaha Pemerintah :
Operasi tegas, operasi 17 Agustus (operasi yg paling terkenal), operasi saptamarga, operasi sadar.
Dampak :
Tercipta gerakan separatis di Sumatera.
Pemberontakan Permesta (Piagam Perjuangan Rakyat Semesta)
Latar belakang :
Pergolakan politik
Tujuan :
Untuk melindungi Indonesia bagian timur dari kaum militer.
Tokoh :
Letkol Ventje Sumual, Panglima Wira-bhuana, D. J Somba, dan Anan Pope.
Usaha pemerintah :
Menggelar operasi Merdeka
Dampak :
APRI lambat laun berhasil merebut daerah-daerah kekuasaan Permesta.
Andi Aziz
Latar belakang :
Menuntut hanya pasukan APRIS dari KNIL yang bertanggung jawab atas keamanan Negara Indonesia Timur (NIT).
Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Tujuan :
Untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Indonesia Timur.
Tokoh :
Andi Aziz dan KNIL
Usaha Pemerintah :
Pemerintah membuat ultimatum untuk Andi Aziz, isinya "4 x 24 jam lapor ke Jakarta dan mempertanggung jawabkan atas perbuatannya."
Menggelar operasi militer yang dipimpin oleh Kolonel A. E Kawilarang.
Dampak :
Andi Aziz dengan pasukannya menyerang markas TNI di Makassar sehingga pecah pertempuran.
Pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan)
Latar belakang :
Tidak menerima terjadinya proses kembali ke negara kesatuan dan tidak setuju dengan masuknya KNIL ke dalam APRIS.
Tujuan :
Untuk menyelesaikan persoalan RMS dengan cara damai.
Tokoh :
Dr. Soumokil, Dr. J Leimana, Achmad Wiranatakusumah, Slamet Riyadi, dan Mayor Suryo Sutandrio.
Usaha Pemerintah :
Menyelesaikan masalah RMS dengan cara damai. Misi damai itu diketuai oleh Dr. j Leimana.
Dibentuk pasukan eksedisi khusus (APRIS/TNI) di bawah pimpinan Alex Kawilarang.
Dampak :
Adanya praktek intimidasi, teror, dan serangkaian pembunuhan di berbagai tempat.
3. Apa yang dimaksud Program-program berikut ini? Berhasilkah? Jelaskan!
a. Gunting Syafruddin
Pemotongan nilai mata uang (sanering) untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.
Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang (sanering). Caranya memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan ini dilakukan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri Nomor 1 PU tanggal 19 Maret 1950. Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar.
Dampaknya rakyat kecil tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta.
b. Sistem Ekonomi Gerakan Benteng (Kabinet Natsir)
Upaya menumbuhkan semangat berwirausaha para pengusaha pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya kepada importir pribumi serta memberikan kredit pada pengusaha pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.
Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah:
- Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
- Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
- Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
- Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena:
- Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
- Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
- Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
- Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
- Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
- Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.
Dampaknya adalah program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran Belanja pada 1952 sebanyak 3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.
c. Nasionalisasi De Javasche Bank
Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat peraturan bahwa mengenai pemberian kredit harus dikonsultasikan pada pemerintah Belanda.
Hal ini menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter. Tujuannya adalah untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara drastis. Perubahan mengenai nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan bank sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No. 24 tahun 1951.
d. Sistem Ekonomi Ali-Baba (Kabinet Ali Sastroamijoyo I)
Penggalangan kerjasama antara pengusaha Cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan kepada pengusaha pribumi. Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi pengusaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo (menteri perekonomian kabinet Ali I). Tujuan dari program ini adalah:
- Untuk memajukan pengusaha pribumi.
- Agar para pengusaha pribumi bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
- Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
- Memajukan ekonomi Indonesia perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi dan non pribumi.
Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non pribumi khususnya Cina. Dengan pelaksanaan kebijakan Ali-Baba, pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf.
Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Pemerintah memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang ada. Program ini tidak dapat berjalan dengan baik sebab:
- Pengusaha pribumi kurang pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Sedangkan pengusaha non pribumi lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan kredit.
- Indonesia menerapkan sistem Liberal sehingga lebih mengutamakan persaingan bebas.
- Pengusaha pribumi belum sanggup bersaing dalam pasar bebas.
e. Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin oleh Anak Agung Gde Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan Finek, yang berisi:
- Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.
- Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
- Hubungan Finek didasarkan pada Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua belah pihak.
Hasilnya pemerintah Belanda tidak mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil langkah secara sepihak. Tanggal 13 Februari 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni Indonesia-Belanda secara sepihak.
Tujuannya untuk melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sehingga, tanggal 3 Mei 1956, akhirnya Presiden Sukarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB. Dampaknya adalah banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan Belanda tersebut.
f. Rencana Kasimo (Kasimo Plan)
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan I.J.Kasimo. Program ini berupa Rencana Produksi Tiga tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti dari Kasimo Plan adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan menigkatkan produksi bahan pangan. Rencana Kasimo ini adalah:
- Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277 HA
- Melakukan intensifikasi di Jawa dengan menanam bibit unggul
- Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan.
- Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit.
- Transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun
a. Kabinet Natsir (6 September 1950 - 21 Maret 1951)
Kabinet Natsir jatuh setelah Hadikusuma dari PNI mengajukan mosi yang tidak percaya menyangkut pencabutan PP No. 39/1950 tentang DPRS dan DPRDS.
Jatuhnya kabinet natsir disebabkan kebijakan Natsir dalam rangka pembentukan DPRD dinilai oleh golongan oposisi terlalu banyak menguntungkan Masyumi
b. Kabinet Soekiman (27 April 1951 – 3 April 1952)
Penyebab utamanya kabinet sukiman jatuh adalah pertukaran nota antara Menlu Subarjodan Duta besar amerika, Merlan Cochran.
Kabinet Sukiman berkoalisi dengan Masyumi dan PNI. Kabinet sukiman menjadi paling terkenal karena usahanya ynag serius untuk menumpas PKI. Kegagalan Sukiman dalam menangani masalah pemberontakan kahar muzakar di Sulawesi sangat melemahkan kekuasaannya.
Adapun penyebab dari jatuhnya kabinet ini adalah ditandatanganinya persetujuan bantuan ekonomi dan persenjataan dari Amerika kepada Indonesia atas dasar MSA. Hal ini menimbulkan pertentangan dengan program kabinet dalam hal politik luar negeri yang bebas aktif, dengan ditandatanganinya menimbulkan tafsiran bahwa indonesia condong ke blok barat.
c. Kabinet Wilopo (3 April 1952 - 3 Juni 1953)
Kabinet Wilopo jatuh adalah peristiwa 17 oktober 1952 yang gerakan sejumlah perwira Angkatan Darat ( AD ) menekan presiden soekarno agar membubarkan kabinet.
Kabinet Burhanuddin Harahap memerintah hanya selama 5-6 bulan saja, tetapi banyak mendapatkan keberhasilan dan kesuksesan. Sebenarnya kabinet ini di dalam menjalankan pemerintahan kompak dan utuh, tidak ada pertentangan dan keretakan dalam tubuh kabinet. Begitu juga tidak ada pertentangan antar partai yang ikut dalam koalisi kabinet ini, tidak seperti kabinet-kabinet sebelumnya. Sebaliknya kelompok oposisi seperti : PNI dan sebagainya tidak terlalu berusaha menjatuhkan kabinet. Sebenarnya kabinet ini masih berjalan baik. Cuma Presiden kurang merestui kabinet ini, karena yang menunjuk Burhanuddin Harahap sebagai formatir kabinet adalah Drs. Moh. Hatta.
Setelah hasil pemungutan suara diumumkan dan pembagian kursi di DPR diumumkan, maka tanggal 2 Maret 1956 pukul 10.00 siang Kabinet Burhanuddin Harahap mengundurkan diri, menyerahkan mandatnya kepada Presiden, untuk dibentuk kabinet baru berdasarkan hasil pemilihan umum. Sebenarnya kabinet ini seandainya terus bekerja tidak apa-apa selagi tidak ada mosi tidak percaya dari parlemen. Tetapi secara etika politik demokrasi parlementer, kabinet ini dengan sukarela menyerahkan mandatnya, setelah berhasil melaksanakan Pemilu baik untuk anggota DPR maupun konstituante.
Jadi kabinet ini jatuh tidak dikarenakan keretakan di dalam tubuh kabinet, juga bukan karena dijatuhkan oleh kelompok oposisi yang mencetuskan mosi tidak percaya dari parlemen, tetapi merasa tugasnya sudah selesai. Kabinet terus bekerja sebagai Kabinet Domissioner selama 20 hari yaitu sampai terbentuknya kabinet baru yakni Kabinet Ali – Rum – Idham yang dilantik tanggal 24 Maret 1956 dan serah terima dengan Kabinet Burhanuddin Harahap tanggal 26 Maret 1956. Setelah itu Eks Perdana Menteri ataupun Menteri lagi sampai kini dalam kabinet mana pun juga dan dimana pun juga.
d. Kabinet Ali Sastroamijoyo I
Kabinet Ali jatuh akibat NU memutuskan untuk menarik kembali menteri – menterinya yang kemudian di ikuti oleh partai – partai lain.
e. Kabinet Burhanuddin Harahap
Kabinet Burhanuddin Harahap jatuh setelah tidak mendapatkan dukungan dalam pemilu tahun 1955.
f. Kabinet Ali Sastroamijoyo II
Karena pergolakan di daerah yang semakin menguat, seperti pembentukan Daerah Militer di Sumatera Utara.
g. Kabinet Djuanda
Kabinat Djuanda berakhir setelah presiden Soekarno mengeluarkan Dekret presiden 5 juli 1959.
2. Faktor yang melatarbelakangi pemberontakan daerah berikut ini memberontak:
PKI MADIUN
Latar belakang :
Digantinya kabinet Amir Syarifuddin oleh kabinet Hatta.
Tujuan :
Mendirikan Soviet Republik Indonesia.
Membangun negara komunis.
Tokoh :
Muso, Amir Syarifuddin, dan anggota PKI.
Usaha Pemerintah:
Pemerintah menyerang Madiun dari dua arah. Dari Barat oleh pasukan Divisi Siliwangi dan dari Timur oleh pasukan di bawah pimpinan Kolonel Sungkono.
Dampak :
Banyak pejabat, perwira TNI, pimpinan partai, alim ulama dan rakyat dibunuh.
DI/TII JABAR
Latar belakang :
Tidak puas dengan perjanjian Renville.
Tujuan :
Untuk mendirikan negara sendiri yang terpisah dari RI.
Mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo
Usaha Pemerintah:
Secara diplomasi : melalui musyawarah
Secara militer : Operasi Pagar Betis (rakyat), Operasi Brathayudha.
DI/TII JATENG
(GAUI)
Tokoh:
Mahfudz Abdurrahman (Kyai Somalangu).
Tempat:
Di Kabumen
Usaha pemerintah:
Pemerintah menurunkan pasukan TNI dengan nama Operasi Banteng Raiders.
(GMI)
Tokoh:
Amir Fatah
Tempat:
Di Tegal, Brebes, Indramayu.
Usaha Pemerintah:
Pemerintah menurunkan pasukan TNI dengan nama Gerakan Banteng Negara (GBN).
DI/TII ACEH
Latar belakang :
Daud Beureuh merasa kecewa atas hilangnya kedudukan sebagai Gubernur militer.
Turunnya status Aceh dari daerah istimewa menjadi daerah keresidenan.
Tujuan :
Mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Tengku Daud Beureuh
Usaha Pemerintah :
Operasi militer
Melakukan Musyawarah Kerukunan Rakyat Aceh
DI/TII SULSEL
Latar belakang :
Tuntutan Kahar Muzakar untuk masuk APRIS ditolak.
Tujuan :
Untuk mendirikan Negara Islam Indonesia (NII)
Tokoh :
Kahar Muzakar dan Gerungan.
Usaha Pemerintah :
Mengirim Divisi Siliwangi
DI/TII KALSEL
Latar belakang :
Ibnu Hajar mendeklarasikan berdirinya DI/TII di Kalsel 10-10-1950.
Tujuan :
Menyatakan gerakannya bagian dari DI/TII.
Tokoh :
Ibnu Hajar dan Kerukunan Rakyat Yang Tertindas (KRYT).
Usaha Pemerintah:
Memerintahkan suatu operasi militer
Pemberontakan APRA (Angkatan Perang Ratu Adil)
Latar belakang :
Kalangan Kolonialis Belanda ingin mengamankan kepentingan ekonominya di Indonesia.
Tujuan :
Untuk mempertahankan kedudukan Negara Pasundan.
Tokoh :
Kapten Westerling, APRA, Sultan Hamid II
Usaha Pemerintah :
Secara diplomasi : Tekanan terhadap pimpinan pasukan Belanda.
Secara militer : Pemerintah mendatangkan kesatuan polisi dan polisi militer.
Dampak :
Pasukan APRA dapat menguasai Kota Bandung dalam beberapa jam.
Pemberontakan PRRI (Pemerintah Revosulioner Republik Indonesia)
Latar belakang :
Hubungan yang tidak harmonis antara pemerintah pusat dengan beberapa daerah, terutama Sumatera dan Sulawesi.
Tujuan :
Untuk mempersiapkan usaha pembangunan di daerah secara intregal.
Tokoh :
Letkol Ahmad Husein
Usaha Pemerintah :
Operasi tegas, operasi 17 Agustus (operasi yg paling terkenal), operasi saptamarga, operasi sadar.
Dampak :
Tercipta gerakan separatis di Sumatera.
Pemberontakan Permesta (Piagam Perjuangan Rakyat Semesta)
Latar belakang :
Pergolakan politik
Tujuan :
Untuk melindungi Indonesia bagian timur dari kaum militer.
Tokoh :
Letkol Ventje Sumual, Panglima Wira-bhuana, D. J Somba, dan Anan Pope.
Usaha pemerintah :
Menggelar operasi Merdeka
Dampak :
APRI lambat laun berhasil merebut daerah-daerah kekuasaan Permesta.
Andi Aziz
Latar belakang :
Menuntut hanya pasukan APRIS dari KNIL yang bertanggung jawab atas keamanan Negara Indonesia Timur (NIT).
Menentang masuknya pasukan APRIS dari TNI
Mempertahankan tetap berdirinya Negara Indonesia Timur.
Tujuan :
Untuk mempertahankan dan menegakkan Negara Indonesia Timur.
Tokoh :
Andi Aziz dan KNIL
Usaha Pemerintah :
Pemerintah membuat ultimatum untuk Andi Aziz, isinya "4 x 24 jam lapor ke Jakarta dan mempertanggung jawabkan atas perbuatannya."
Menggelar operasi militer yang dipimpin oleh Kolonel A. E Kawilarang.
Dampak :
Andi Aziz dengan pasukannya menyerang markas TNI di Makassar sehingga pecah pertempuran.
Pemberontakan RMS (Republik Maluku Selatan)
Latar belakang :
Tidak menerima terjadinya proses kembali ke negara kesatuan dan tidak setuju dengan masuknya KNIL ke dalam APRIS.
Tujuan :
Untuk menyelesaikan persoalan RMS dengan cara damai.
Tokoh :
Dr. Soumokil, Dr. J Leimana, Achmad Wiranatakusumah, Slamet Riyadi, dan Mayor Suryo Sutandrio.
Usaha Pemerintah :
Menyelesaikan masalah RMS dengan cara damai. Misi damai itu diketuai oleh Dr. j Leimana.
Dibentuk pasukan eksedisi khusus (APRIS/TNI) di bawah pimpinan Alex Kawilarang.
Dampak :
Adanya praktek intimidasi, teror, dan serangkaian pembunuhan di berbagai tempat.
3. Apa yang dimaksud Program-program berikut ini? Berhasilkah? Jelaskan!
a. Gunting Syafruddin
Pemotongan nilai mata uang (sanering) untuk mengurangi jumlah uang yang beredar agar tingkat harga turun.
Kebijakan ini adalah Pemotongan nilai uang (sanering). Caranya memotong semua uang yang bernilai Rp. 2,50 ke atas hingga nilainya tinggal setengahnya. Kebijakan ini dilakukan oleh Menteri Keuangan Syafruddin Prawiranegara pada masa pemerintahan RIS. Tindakan ini dilakukan pada tanggal 20 Maret 1950 berdasarkan SK Menteri Nomor 1 PU tanggal 19 Maret 1950. Tujuannya untuk menanggulangi defisit anggaran sebesar Rp. 5,1 Miliar.
Dampaknya rakyat kecil tidak dirugikan karena yang memiliki uang Rp. 2,50 ke atas hanya orang-orang kelas menengah dan kelas atas. Dengan kebijakan ini dapat mengurangi jumlah uang yang beredar dan pemerintah mendapat kepercayaan dari pemerintah Belanda dengan mendapat pinjaman sebesar Rp. 200 juta.
b. Sistem Ekonomi Gerakan Benteng (Kabinet Natsir)
Upaya menumbuhkan semangat berwirausaha para pengusaha pribumi dan mendorong importir nasional agar bisa bersaing dengan perusahaan impor asing dengan membatasi impor barang tertentu dan memberikan lisensi impornya hanya kepada importir pribumi serta memberikan kredit pada pengusaha pribumi agar nantinya dapat berpartisipasi dalam perkembangan ekonomi nasional. Namun usaha ini gagal karena sifat pengusaha pribumi yang cenderung konsumtif dan tak bisa bersaing dengan pengusaha non-pribumi.
Sistem ekonomi Gerakan Benteng merupakan usaha pemerintah Republik Indonesia untuk mengubah struktur ekonomi yang berat sebelah yang dilakukan pada masa Kabinet Natsir yang direncanakan oleh Sumitro Djojohadikusumo (menteri perdagangan). Program ini bertujuan untuk mengubah struktur ekonomi kolonial menjadi struktur ekonomi nasional (pembangunan ekonomi Indonesia). Programnya adalah:
- Menumbuhkan kelas pengusaha dikalangan bangsa Indonesia.
- Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam pembangunan ekonomi nasional.
- Para pengusaha Indonesia yang bermodal lemah perlu dibimbing dan diberikan bantuan kredit.
- Para pengusaha pribumi diharapkan secara bertahap akan berkembang menjadi maju.
Gagasan Sumitro ini dituangkan dalam program Kabinet Natsir dan Program Gerakan Benteng dimulai pada April 1950. Hasilnya selama 3 tahun (1950-1953) lebih kurang 700 perusahaan bangsa Indonesia menerima bantuan kredit dari program ini. Tetapi tujuan program ini tidak dapat tercapai dengan baik meskipun beban keuangan pemerintah semakin besar. Kegagalan program ini disebabkan karena:
- Para pengusaha pribumi tidak dapat bersaing dengan pengusaha non pribumi dalam kerangka sistem ekonomi liberal.
- Para pengusaha pribumi memiliki mentalitas yang cenderung konsumtif.
- Para pengusaha pribumi sangat tergantung pada pemerintah.
- Para pengusaha kurang mandiri untuk mengembangkan usahanya.
- Para pengusaha ingin cepat mendapatkan keuntungan besar dan menikmati cara hidup mewah.
- Para pengusaha menyalahgunakan kebijakan dengan mencari keuntungan secara cepat dari kredit yang mereka peroleh.
Dampaknya adalah program ini menjadi salah satu sumber defisit keuangan. Beban defisit anggaran Belanja pada 1952 sebanyak 3 Miliar rupiah ditambah sisa defisit anggaran tahun sebelumnya sebesar 1,7 miliar rupiah. Sehingga menteri keuangan Jusuf Wibisono memberikan bantuan kredit khususnya pada pengusaha dan pedagang nasional dari golongan ekonomi lemah sehingga masih terdapat para pengusaha pribumi sebagai produsen yang dapat menghemat devisa dengan mengurangi volume impor.
c. Nasionalisasi De Javasche Bank
Bank Indonesia pada 15 Desember 1951 lewat UU no.24 th 1951 dengan fungsi sebagai bank sentral dan bank sirkulasi.
Seiring meningkatnya rasa nasionalisme maka pada akhir tahun 1951 pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia. Awalnya terdapat peraturan bahwa mengenai pemberian kredit harus dikonsultasikan pada pemerintah Belanda.
Hal ini menghambat pemerintah dalam menjalankan kebijakan ekonomi dan moneter. Tujuannya adalah untuk menaikkan pendapatan dan menurunkan biaya ekspor, serta melakukan penghematan secara drastis. Perubahan mengenai nasionalisasi De Javasche Bank menjadi Bank Indonesia sebagai bank sentral dan bank sirkulasi diumumkan pada tanggal 15 Desember 1951 berdasarkan Undang-undang No. 24 tahun 1951.
d. Sistem Ekonomi Ali-Baba (Kabinet Ali Sastroamijoyo I)
Penggalangan kerjasama antara pengusaha Cina dan pengusaha pribumi. Pengusaha non-pribumi diwajibkan memberikan latihan-latihan kepada pengusaha pribumi. Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi pengusaha swasta nasional. Program ini tidak berjalan dengan baik karena pengusaha pribumi kurang berpengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah.
Sistem ekonomi Ali-Baba diprakarsai oleh Iskaq Tjokrohadisurjo (menteri perekonomian kabinet Ali I). Tujuan dari program ini adalah:
- Untuk memajukan pengusaha pribumi.
- Agar para pengusaha pribumi bekerjasama memajukan ekonomi nasional.
- Pertumbuhan dan perkembangan pengusaha swasta nasional pribumi dalam rangka merombak ekonomi kolonial menjadi ekonomi nasional.
- Memajukan ekonomi Indonesia perlu adanya kerjasama antara pengusaha pribumi dan non pribumi.
Ali digambarkan sebagai pengusaha pribumi sedangkan Baba digambarkan sebagai pengusaha non pribumi khususnya Cina. Dengan pelaksanaan kebijakan Ali-Baba, pengusaha pribumi diwajibkan untuk memberikan latihan-latihan dan tanggung jawab kepada tenaga-tenaga bangsa Indonesia agar dapat menduduki jabatan-jabatan staf.
Pemerintah menyediakan kredit dan lisensi bagi usaha-usaha swasta nasional. Pemerintah memberikan perlindungan agar mampu bersaing dengan perusahaan-perusahaan asing yang ada. Program ini tidak dapat berjalan dengan baik sebab:
- Pengusaha pribumi kurang pengalaman sehingga hanya dijadikan alat untuk mendapatkan bantuan kredit dari pemerintah. Sedangkan pengusaha non pribumi lebih berpengalaman dalam memperoleh bantuan kredit.
- Indonesia menerapkan sistem Liberal sehingga lebih mengutamakan persaingan bebas.
- Pengusaha pribumi belum sanggup bersaing dalam pasar bebas.
e. Persaingan Finansial Ekonomi (Finek)
Pada masa Kabinet Burhanuddin Harahap dikirim delegasi ke Jenewa untuk merundingkan masalah finansial-ekonomi antara pihak Indonesia dengan pihak Belanda. Misi ini dipimpin oleh Anak Agung Gde Agung. Pada tanggal 7 Januari 1956 dicapai kesepakatan rencana persetujuan Finek, yang berisi:
- Persetujuan Finek hasil KMB dibubarkan.
- Hubungan Finek Indonesia-Belanda didasarkan atas hubungan bilateral.
- Hubungan Finek didasarkan pada Undang-undang Nasional, tidak boleh diikat oleh perjanjian lain antara kedua belah pihak.
Hasilnya pemerintah Belanda tidak mau menandatangani, sehingga Indonesia mengambil langkah secara sepihak. Tanggal 13 Februari 1956 Kabinet Burhanuddin Harahap melakukan pembubaran Uni Indonesia-Belanda secara sepihak.
Tujuannya untuk melepaskan diri dari keterikatan ekonomi dengan Belanda. Sehingga, tanggal 3 Mei 1956, akhirnya Presiden Sukarno menandatangani undang-undang pembatalan KMB. Dampaknya adalah banyak pengusaha Belanda yang menjual perusahaannya, sedangkan pengusaha pribumi belum mampu mengambil alih perusahaan Belanda tersebut.
f. Rencana Kasimo (Kasimo Plan)
Program ini disusun oleh Menteri Urusan Bahan Makanan I.J.Kasimo. Program ini berupa Rencana Produksi Tiga tahun (1948-1950) mengenai usaha swasembada pangan dengan beberapa petunjuk pelaksanaan yang praktis. Inti dari Kasimo Plan adalah untuk meningkatkan kehidupan rakyat dengan menigkatkan produksi bahan pangan. Rencana Kasimo ini adalah:
- Menanami tanah kosong (tidak terurus) di Sumatera Timur seluas 281.277 HA
- Melakukan intensifikasi di Jawa dengan menanam bibit unggul
- Pencegahan penyembelihan hewan-hewan yang berperan penting bagi produksi pangan.
- Di setiap desa dibentuk kebun-kebun bibit.
- Transmigrasi bagi 20 juta penduduk Pulau Jawa dipindahkan ke Sumatera dalam jangka waktu 10-15 tahun
2012年1月14日土曜日
Pemakaian Bentuk Kata Kerja - Verb Bahasa Jepang
① [bentuk -masu]
bentuk -masu + mashou:
- robi- de yasumimashou = mari kita beristirahat di lobi
bentuk -masu + masenka:
- isshoni depa-to e ikimasenka = mau pergi ke toko bersama-sama?
bentuk -masu + tai desu:
- gohan o tabetai desu = saya ingin makan nasi
bentuk -masu + ni ikimasu:- namba e kamera o kaini ikimasu = pergi ke Nanba untuk membeli kamera
bentuk -masu + mashou ka:- takusi- o yobimashou ka = apakah (saya) panggilkan taksi (untuk anda)?
② [bentuk -te]
bentuk -te + kudasai:
- sumimasen ga, jisyo o kashite kudasai = maaf, tolong pinjamkan kamus
bentuk -te + imasu:
- ima ame ga futte imasu = hujan sedang turun
bentuk -te + mo ii desu:
- tabako o suttemo ii desu ka = bolehkah saya merokok?
bentuk -te + kara, ~:
- shigoto ga owatte kara, sugu uchi e kaerimasu = setelah selesai bekerja, langsung kembali ke rumah
bentuk -te, bentuk -te, ~:
- asa okite, gohan o tabete, kaisha e ikimasu = bangun, sarapan, kemudian pergi ke kantor
bentuk -te + agemasu:
- watashi no kasa o kashite agemasu = (saya) pinjamkan payung saya (untuk anda)
bentuk -te + moraimasu:
- suzuki-san ni nihon-go o oshiete moraimashita = saya diajarkan bahasa jepang oleh ibu Suzuku
bentuk -te + kuremasu:
- kanai ga shashin o okutte kuremashita = isteri saya mengirimkan foto untuk saya
③ [bentuk -nai]
bentuk -nai + nai de kudasai:- koujyou no naka de shashin o toranai de kudasai = harap jangan mengambil foto di dalam pabrik
bentuk -nai + nakereba narimasen:
- 11-ji made ni ryou e kaeranakereba narimasen = sebelum jam 11 harus pulang ke asrama
bentuk -nai + nakute mo ii desu:
- mainichi repo-to o dasanakute mo ii desu = tidak perlu mengajukan laporan setiap hari
④ [bentuk kamus]
bentuk kamus + koto ga dekimasu:
- nihon-go o hanasu koto ga dekimasu = dapat berbicara bahasa Jepang
bentuk kamus + koto desu:
- watashi no shumi wa eiga o miru koto desu = kegemaran saya adalah menonton film
bentuk kamus + mae ni, ~:
- bangohan o taberu mae ni, shawa- o abimasu = sebelum makan malam, mandi (shower)
⑤ [bentuk -ta]
bentuk -ta + koto ga arimasu:
- oosaka e itta koto ga arimasu = pernah pergi ke osaka
bentuk -ta + ri, bentuk -ta + ri shimasu:
- nichiyoubi sentakushitari, shoujishitari shimasu = mencuci (pakaian), membersihkan (kamar) dan sebagainya pada hari Minggu
⑥ [bentuk biasa]
bentuk biasa + to omoimasu:
- ashita ame ga furu to omoimasu = saya kira besok akan hujan
- nihon wa mono ga takai to omoimasu = saya kira harga barang Jepang mahal
- nihon wa koutsuu ga benrida to omoimasu = saya kira lalu lintas Jepang praktis
bentuk biasa + to iimasu:
- katou-san wa ashita kaisha e kuru to iimasu = Pak Kato mengatakan bahwa besok ia akan datang ke kantor
Untuk kategori berikut:
K. Kerja bentuk biasa + deshou
K. Sifat i + bentuk biasa + deshou
K. Sifat na (tanpa da) bentuk biasa + deshou
K. Benda (tanpa da) bentuk biasa + deshou
- doyoubi ryou de pa-ti- ga aru deshou = pada hari Sabtu yang akan datang diadakan pesta di asrama, bukan?
- fujisan ga kirei deshou = Gunung Fuji indah, bukan?
K. Kerja bentuk biasa + K. Benda:
- kore wa tanaka-san ga totta shashin desu = ini adalah potret yang diambil sdr. Tanaka
- boushi o kabutte iru hito wa ari-san desu = orang yang memakai topi adalah sdr. Ari
⑦ [bentuk biasa + toki]
K. Kerja bentuk biasa + toki:- gaikoku e iku toki, pasupo-to ga irimasu = waktu pergi ke luar negeri, paspor diperlukan
K. Sifat i, ~i + toki:- samui toki, se-ta- o kimasu = apabila udara dingin, mengenakan baju hangat
K. Sifat na, ~na + toki:- hima na toki, terebi o mimasu = waktu senggang, (saya) menonton televisi
K. Benda, ~no + toki:- gakusei no toki, yoku suki- ni ikimashita = waktu mahasiswa, saya sering pergi bermain ski
⑧ [bentuk biasa lampau + ra, ~]
- moshi ashita ame ga futtara, pikunikku ni ikimasen = kalau besok hujan, tidak pergi piknik
- yasukattara, kamera o kaitai desu = kalau murah, ingin membeli kamera
- ashita ii tenki dattara, dekakemasu = kalau besok cuacanya bagus, akan pergi
⑨ [bentuk ~te + mo]
K. Kerja bentuk ~te + mo:
- suicchi o iretemo, kikai ga ugokimasen = meskipun memasang saklar, mesin tidak mau berjalan
K. Sifat i, ~kute + mo:
- ikura takakutemo, kuruma o kaitaidesu = meskipun sangat mahal, saya ingin membeli mobil
K. Benda atau K. Sifat na, ~de + mo:
- ame demo, ryokou ni ikimasu = meskipun hujan, kami akan berdarma wisata
⑩ [bentuk kamus + to]K. Kerja bentuk kamus + to:
- kono botan o osuto, kikai ga tomarimasu = kalau tekan tombol ini, mesin akan berhenti
- nihon-go ga wakaranaito, koujyou de komarimasu = kalau tidak mengerti bahasa Jepang, pergi ke pabrik akan kesulitan
bentuk -masu + mashou:
- robi- de yasumimashou = mari kita beristirahat di lobi
bentuk -masu + masenka:
- isshoni depa-to e ikimasenka = mau pergi ke toko bersama-sama?
bentuk -masu + tai desu:
- gohan o tabetai desu = saya ingin makan nasi
bentuk -masu + ni ikimasu:- namba e kamera o kaini ikimasu = pergi ke Nanba untuk membeli kamera
bentuk -masu + mashou ka:- takusi- o yobimashou ka = apakah (saya) panggilkan taksi (untuk anda)?
② [bentuk -te]
bentuk -te + kudasai:
- sumimasen ga, jisyo o kashite kudasai = maaf, tolong pinjamkan kamus
bentuk -te + imasu:
- ima ame ga futte imasu = hujan sedang turun
bentuk -te + mo ii desu:
- tabako o suttemo ii desu ka = bolehkah saya merokok?
bentuk -te + kara, ~:
- shigoto ga owatte kara, sugu uchi e kaerimasu = setelah selesai bekerja, langsung kembali ke rumah
bentuk -te, bentuk -te, ~:
- asa okite, gohan o tabete, kaisha e ikimasu = bangun, sarapan, kemudian pergi ke kantor
bentuk -te + agemasu:
- watashi no kasa o kashite agemasu = (saya) pinjamkan payung saya (untuk anda)
bentuk -te + moraimasu:
- suzuki-san ni nihon-go o oshiete moraimashita = saya diajarkan bahasa jepang oleh ibu Suzuku
bentuk -te + kuremasu:
- kanai ga shashin o okutte kuremashita = isteri saya mengirimkan foto untuk saya
③ [bentuk -nai]
bentuk -nai + nai de kudasai:- koujyou no naka de shashin o toranai de kudasai = harap jangan mengambil foto di dalam pabrik
bentuk -nai + nakereba narimasen:
- 11-ji made ni ryou e kaeranakereba narimasen = sebelum jam 11 harus pulang ke asrama
bentuk -nai + nakute mo ii desu:
- mainichi repo-to o dasanakute mo ii desu = tidak perlu mengajukan laporan setiap hari
④ [bentuk kamus]
bentuk kamus + koto ga dekimasu:
- nihon-go o hanasu koto ga dekimasu = dapat berbicara bahasa Jepang
bentuk kamus + koto desu:
- watashi no shumi wa eiga o miru koto desu = kegemaran saya adalah menonton film
bentuk kamus + mae ni, ~:
- bangohan o taberu mae ni, shawa- o abimasu = sebelum makan malam, mandi (shower)
⑤ [bentuk -ta]
bentuk -ta + koto ga arimasu:
- oosaka e itta koto ga arimasu = pernah pergi ke osaka
bentuk -ta + ri, bentuk -ta + ri shimasu:
- nichiyoubi sentakushitari, shoujishitari shimasu = mencuci (pakaian), membersihkan (kamar) dan sebagainya pada hari Minggu
⑥ [bentuk biasa]
bentuk biasa + to omoimasu:
- ashita ame ga furu to omoimasu = saya kira besok akan hujan
- nihon wa mono ga takai to omoimasu = saya kira harga barang Jepang mahal
- nihon wa koutsuu ga benrida to omoimasu = saya kira lalu lintas Jepang praktis
bentuk biasa + to iimasu:
- katou-san wa ashita kaisha e kuru to iimasu = Pak Kato mengatakan bahwa besok ia akan datang ke kantor
Untuk kategori berikut:
K. Kerja bentuk biasa + deshou
K. Sifat i + bentuk biasa + deshou
K. Sifat na (tanpa da) bentuk biasa + deshou
K. Benda (tanpa da) bentuk biasa + deshou
- doyoubi ryou de pa-ti- ga aru deshou = pada hari Sabtu yang akan datang diadakan pesta di asrama, bukan?
- fujisan ga kirei deshou = Gunung Fuji indah, bukan?
K. Kerja bentuk biasa + K. Benda:
- kore wa tanaka-san ga totta shashin desu = ini adalah potret yang diambil sdr. Tanaka
- boushi o kabutte iru hito wa ari-san desu = orang yang memakai topi adalah sdr. Ari
⑦ [bentuk biasa + toki]
K. Kerja bentuk biasa + toki:- gaikoku e iku toki, pasupo-to ga irimasu = waktu pergi ke luar negeri, paspor diperlukan
K. Sifat i, ~i + toki:- samui toki, se-ta- o kimasu = apabila udara dingin, mengenakan baju hangat
K. Sifat na, ~na + toki:- hima na toki, terebi o mimasu = waktu senggang, (saya) menonton televisi
K. Benda, ~no + toki:- gakusei no toki, yoku suki- ni ikimashita = waktu mahasiswa, saya sering pergi bermain ski
⑧ [bentuk biasa lampau + ra, ~]
- moshi ashita ame ga futtara, pikunikku ni ikimasen = kalau besok hujan, tidak pergi piknik
- yasukattara, kamera o kaitai desu = kalau murah, ingin membeli kamera
- ashita ii tenki dattara, dekakemasu = kalau besok cuacanya bagus, akan pergi
⑨ [bentuk ~te + mo]
K. Kerja bentuk ~te + mo:
- suicchi o iretemo, kikai ga ugokimasen = meskipun memasang saklar, mesin tidak mau berjalan
K. Sifat i, ~kute + mo:
- ikura takakutemo, kuruma o kaitaidesu = meskipun sangat mahal, saya ingin membeli mobil
K. Benda atau K. Sifat na, ~de + mo:
- ame demo, ryokou ni ikimasu = meskipun hujan, kami akan berdarma wisata
⑩ [bentuk kamus + to]K. Kerja bentuk kamus + to:
- kono botan o osuto, kikai ga tomarimasu = kalau tekan tombol ini, mesin akan berhenti
- nihon-go ga wakaranaito, koujyou de komarimasu = kalau tidak mengerti bahasa Jepang, pergi ke pabrik akan kesulitan
2012年1月6日金曜日
Kanji Level 1 Day 30
| On'yomi | Romaji on | Kun'yomi | Romaji kun | Meaning: |
| キ | ki | いそ | iso | seashore; beach |
| 磯巾着 | いそぎんちゃく | sea anemone |
| 磯釣り | いそずり | fishing from rocks by the shore |
| 磯釣り | いそづり | fishing from rocks by the shore |
| 磯伝い | いそづたい | along the beach |
| 磯馴松 | そなれまつ | windswept pine trees |
2011年12月25日日曜日
Kebiasaan di Indonesia (in Japanese)
私の国の習慣
インドネシアの習慣やエチケットはインドネシアの様々な民族や宗教からきたと言われています。インドネシア民族というと、例えば、ジャワ民族、バリ民族、 マカサル民族などがあります。私の両親はジャワ民族です。ジャワの民族と言うのは東ジャワや中部ジャワから来た人たちの民族です。両親は小さい頃からジャ ワの習慣を始め、様々なインドネシアの習慣とエチケットを教えてくれました。以下はインドネシアの習慣やジャワ民族の習慣やエチケットの例です。
• 左手は不浄の手とされていますので、食べるときや物をあげたり、もらったりするときは必ず右手を使用すること。
• インドネシアはイスラム教徒が一番多い国です。そのためにお酒と豚肉が禁止されています。
• 頭は人間の一番大事なものだと思われているので、子供の頭でもなでることはタブーとされています。
• 病人にカンボジャ(Plumeria)の花をプレゼントしてはいけません。インドネシアの文化ではカンボジャの花は墓地や幽霊に関連付けられているからです。
• 日本の習慣と同じ、女性はあぐらをかいて、座っていけません。しかし、マカサルの民族に女性はあぐらをかいて、座ってもいいです。
• 生理中の場合、女性はモスクとお寺に入ってはいけません。イスラム教とヒンズー教によると月経は不浄条件とされています。
日本とインドネシアの習慣やエチケットを勉強することによって様々なことを学ぶことができると思いますので、これからも勉強したいと思います。
Kebiasaan di Negara Saya (Indonesia)
Etika dan kebiasaan di Indonesia berasal dari berbagai nilai-nilai agama dan suku bangsa yang ada. Berbagai suku bangsa di Indonesia, misalnya suku Jawa, Bali, Makasar dan lain-lain. Orangtua saya berasal dari suku Jawa. Yang disebut dengan suku Jawa adalah orang-orang yang berasal dari Jawa bagian Timur dan Tengah. Orangtua saya semenjak saya kecil telah memperkenalkan dan mengajarkan kebiasaan suku Jawa dan juga berbagai etika dan kebiasaan yang ada di Indonesia.
Berikut di bawah ini kebiasaan dan etika di Indonesia, serta yang berlaku pada suku Jawa.
• Tangan kiri dianggap kotor atau najis. Oleh karena itu, saat makan, memberi dan menerima barang menggunakan tangan kanan adalah suatu keharusan.
• Indonesia adalah negara dengan populasi/penganut agama Islam terbesar di dunia. Karenanya minumal berakohol dan daging babi dilarang.
• Kepala adalah bagian yang dianggap terpenting bagi manusia, oleh karenanya memegang kepala anak kecil pun dapat dianggap tabu.
• Tidak diperbolehkan memberikan karangan bunga kamboja (Plumeria) saat berkunjung ke rumah sakit. Dalam budaya di Indonesia, bunga kamboja dianggap berkaitan dengan kuburan dan hantu (mistik).
• Sama seperti kebiasaan di Jepang, wanita tidak boleh duduk dengan bersila. Tetapi pada suku Makasar, wanita diperbolehkan duduk dengan bersila.
• Wanita yang sedang menstruasi dilarang memasuki masjid dan pura. Menurut agama Islam dan Hindu, menstruasi adalah kondisi yang tidak suci.
Menurut saya dengan mempelajari kebiasaan dan etika yang ada di Jepang dan Indonesia saya bisa belajar banyak hal. Oleh karena itu, mulai dari sekarang pun saya ingin (lebih) mempelajarinya.
インドネシアの習慣やエチケットはインドネシアの様々な民族や宗教からきたと言われています。インドネシア民族というと、例えば、ジャワ民族、バリ民族、 マカサル民族などがあります。私の両親はジャワ民族です。ジャワの民族と言うのは東ジャワや中部ジャワから来た人たちの民族です。両親は小さい頃からジャ ワの習慣を始め、様々なインドネシアの習慣とエチケットを教えてくれました。以下はインドネシアの習慣やジャワ民族の習慣やエチケットの例です。
• 左手は不浄の手とされていますので、食べるときや物をあげたり、もらったりするときは必ず右手を使用すること。
• インドネシアはイスラム教徒が一番多い国です。そのためにお酒と豚肉が禁止されています。
• 頭は人間の一番大事なものだと思われているので、子供の頭でもなでることはタブーとされています。
• 病人にカンボジャ(Plumeria)の花をプレゼントしてはいけません。インドネシアの文化ではカンボジャの花は墓地や幽霊に関連付けられているからです。
• 日本の習慣と同じ、女性はあぐらをかいて、座っていけません。しかし、マカサルの民族に女性はあぐらをかいて、座ってもいいです。
• 生理中の場合、女性はモスクとお寺に入ってはいけません。イスラム教とヒンズー教によると月経は不浄条件とされています。
日本とインドネシアの習慣やエチケットを勉強することによって様々なことを学ぶことができると思いますので、これからも勉強したいと思います。
Kebiasaan di Negara Saya (Indonesia)
Etika dan kebiasaan di Indonesia berasal dari berbagai nilai-nilai agama dan suku bangsa yang ada. Berbagai suku bangsa di Indonesia, misalnya suku Jawa, Bali, Makasar dan lain-lain. Orangtua saya berasal dari suku Jawa. Yang disebut dengan suku Jawa adalah orang-orang yang berasal dari Jawa bagian Timur dan Tengah. Orangtua saya semenjak saya kecil telah memperkenalkan dan mengajarkan kebiasaan suku Jawa dan juga berbagai etika dan kebiasaan yang ada di Indonesia.
Berikut di bawah ini kebiasaan dan etika di Indonesia, serta yang berlaku pada suku Jawa.
• Tangan kiri dianggap kotor atau najis. Oleh karena itu, saat makan, memberi dan menerima barang menggunakan tangan kanan adalah suatu keharusan.
• Indonesia adalah negara dengan populasi/penganut agama Islam terbesar di dunia. Karenanya minumal berakohol dan daging babi dilarang.
• Kepala adalah bagian yang dianggap terpenting bagi manusia, oleh karenanya memegang kepala anak kecil pun dapat dianggap tabu.
• Tidak diperbolehkan memberikan karangan bunga kamboja (Plumeria) saat berkunjung ke rumah sakit. Dalam budaya di Indonesia, bunga kamboja dianggap berkaitan dengan kuburan dan hantu (mistik).
• Sama seperti kebiasaan di Jepang, wanita tidak boleh duduk dengan bersila. Tetapi pada suku Makasar, wanita diperbolehkan duduk dengan bersila.
• Wanita yang sedang menstruasi dilarang memasuki masjid dan pura. Menurut agama Islam dan Hindu, menstruasi adalah kondisi yang tidak suci.
Menurut saya dengan mempelajari kebiasaan dan etika yang ada di Jepang dan Indonesia saya bisa belajar banyak hal. Oleh karena itu, mulai dari sekarang pun saya ingin (lebih) mempelajarinya.
2011年12月19日月曜日
Kanji Level 1 Day 28
| On'yomi | Romaji on | Kun'yomi | Romaji kun | Meaning: |
| ガイ カイ | gai kai | い | i | sign of the hog; 9-11PM; twelfth sign of the Chinese zodiac |
| 亥 | い | twelfth sign of the Chinese zodiac (The Boar, 9pm-11pm, north-northwest, October) |
| 亥 | いのしし | twelfth sign of the Chinese zodiac (The Boar, 9pm-11pm, north-northwest, October) |
| 亥の刻 | いのこく | 10 o'clock in the evening |
| 亥月 | がいげつ | October (of the lunar calendar) |
| 亥年 | いのししどし | year of the boar |
Kanji Level 1 Day 29
登録:
投稿
(
Atom
)




